Cerita Tentang Rumah Jengki dan Kenangan Masa Kecil

Rumah jengki

Rumah jengki? Hmm, sebelumnya setiap kali mendengar kata ‘jengki’, hal pertama yang muncul di pikiran saya adalah sebentuk sepeda semi jadul bercat warna biru atau hijau yang sempat populer pada masa kecil saya, sebelum hilang tergantikan oleh sepeda-sepeda ATB/MTB modern:

Sepeda jengki jadul
Sepeda jengki

Selama bertahun-tahun saya penasaran darimana istilah ‘jengki’ itu berasal, sampai akhirnya tanpa sengaja menemukan artikel di internet tentang arsitektur ‘jengki style’ alias rumah jengki. WTH?

‘Jengki’ adalah penyesuaian lidah orang Indonesia untuk mengeja ‘yankee’. Yankee sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menyebut orang-orang Amerika dari kawasan utara. Secara lebih spesifik, istilah yankee muncul pada era perang saudara di Amerika Serikat antara pihak Union (negara-negara bagian di kawasan utara yang mempertahankan keutuhan federasi Amerika Serikat) dengan pihak Konfederasi (negara-negara bagian kawasan selatan yang hendak memisahkan diri dari Amerika Serikat). Orang-orang selatan yang memberontak mengejek tentara Union dengan panggilan ‘yankee’.

Mengacu pada laman Wikipedia, jengki style alias rumah jengki adalah gaya arsitektur yang lahir dan populer di Indonesia pasca kemerdekaan, tepatnya pada periode 1950-an hingga awal 1960-an. Menurut arsitek Johan Silas, jengki style merupakan interpretasi versi daerah tropis dari desain rumah-rumah suburban modern yang bermunculan pasca perang dunia kedua di Amerika Serikat.

Secara tidak langsung jengki style menggambarkan semangat kebebasan dan kemerdekaan bagi orang-orang Indonesia saat itu, yang diterjemahkan dengan arsitektur yang sengaja memisahkan dirinya dari aturan-aturan standar arsitektur bergaya kolonial Belanda. Sebagai ilustrasi, kita dapat segera membedakan citarasa rumah bergaya kolonial dengan rumah ‘jengki’ dari dua foto di bawah ini:

rumah kolonial belanda
Rumah ‘kolonial’ Belanda
Rumah jengki
Rumah ‘Jengki style’

Buat saya pribadi, saya tidak pernah bisa mengerti bagaimana ada orang yang bisa dan ‘betah’ tinggal di rumah bergaya kolonial yang besar dan megah namun terkesan dingin, angkuh, dan berjarak.

Selain di bagian kota lama yang dilestarikan di kota-kota besar di Jawa, rumah-rumah kolonial yang masih difungsikan sebagai hunian masih dapat kita jumpai di sebagian area-area perkebunan peninggalan Belanda di Sumatera, yang difungsikan sebagai rumah tinggal buat staf manajemen perkebunan (level asisten kebun dan diatasnya). Khususnya di Kota Medan, kita dapat melihat bangunan kolonial yang melimpah di kawasan Kesawan (sebagian masih berfungsi penuh untuk kantor atau hunian).

Artikel lain di laman Rogers Park/West Ridge Historical Society’s mengatakan bahwa pengaruh Amerika yang terlihat pada desain rumah jengki kemungkinan dibawa oleh dosen-dosen Amerika yang mengajar di Institut Teknologi Bandung pada pertengahan 50-an (menggantikan dosen arsitektur Belanda yang terkena repatriasi atau pemulangan karena kondisi politik saat itu), selain arsitek-arsitek Indonesia lulusan Amerika yang pulang dan membawa pengaruh Amerika di tanah kelahirannya seperti Johan Silas, Harry Winarno Kwari, dan Djelantik.

Pada desain rumah jengki, bentuk dasar berupa kubus yang kaku mengalami transformasi menjadi bentuk lain yang tidak lazim, seperti pentagon. Selain itu elemen lain juga mengalami modifikasi, seperti atap dan fasad (muka bangunan) yang asimetris, dan permainan bentuk pintu dan jendela yang di luar kaidah desain normal – mencerminkan spirit kebebasan dan keceriaan.

Masih dari laman Wikipedia yang saya kutip, desain rumah jengki pertama kali muncul pada tahun 1955. Desain tersebut diterapkan pada bangunan-bangunan rumah kelas menengah di kota satelit Kebayoran Baru yang baru selesai dibangun. Perumahan tersebut diperuntukkan buat karyawan-karyawan kelas menengah perusahaan minyak BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij); cikal bakal Pertamina:

Rumah jengki Kebayoran Baru
Rumah jengki Kebayoran Baru tahun 1955

Pada masanya Jengki style sempat menjadi simbol status dan kemakmuran. Dapat dipastikan pemilik rumah jengki pada masa itu adalah orang-orang dari kalangan menengah ke atas, memiliki pendidikan yang relatif lebih tinggi dibanding lingkungannya (yang dapat diterjemahkan dari pemikiran progresif mereka yang bisa menerima desain yang tidak lazim pada masa itu), dan tinggal di kawasan hunian suburban elit yang tenang dan tidak terganggu hiruk-pikuk pusat kota. Kita juga bisa merasakan citra simbol status tersebut dari film-film produksi 60an dan 70an yang memperlihatkan karakter-karakter di film yang ‘modern dan makmur’ tinggal di rumah-rumah bergaya jengki.

Sayang, kebanyakan rumah jengki saat ini sudah tak berbekas (atau memang dibongkar untuk digantikan bangunan baru). Namun setidaknya pada masa kecil dahulu (tahun 80-an) saya masih sempat menyaksikan beberapa yang masih berdiri dengan cantik, sebelum pada akhirnya sebagian besar tenggelam oleh rumah-rumah baru dengan desain yang lebih modern.

Disclaimer: foto-foto diatas saya peroleh dari internet via Googling sebagai ilustrasi tulisan semata (fair use). Hak cipta ada pada pemilik masing-masing foto tersebut.

 

Bagikan artikel ini kepada teman

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *