Antara Kowloon Walled City dan Kalijodo

Kowloon Walled City
Foto: Dailymail

Fans Jean-Claude Van Damme pasti pernah nonton film Bloodsport yang dibintangi aktor laga tersebut pada 1988. Pada salah satu adegan film tersebut terlihat dia dan kawannya diantar oleh pemandu memasuki sebuah blok gedung kumuh di tengah kota Kowloon yang menjadi lokasi pertarungan, yang disebut sebagai ‘kota dinding’ (Walled City):

Kowloon Walled City bukan sebuah lokasi fiktif atau rekaan. Dia benar-benar ada, dan pernah menjadi menjadi ‘ikon’ (dalam pengertian yang negatif) kota Kowloon sebelum akhirnya dihancurkan pada tahun 1994 oleh pemerintah Hong Kong.

Pada puncak masa-masa paling suramnya di tahun 1970-an, Kowloon Walled City terkenal sebagai area dengan populasi superpadat yang tak tersentuh oleh hukum. Penguasa di dalamnya adalah mafia Triad lokal, yang bebas menjalankan bisnis perjudian, prostitusi, dan narkoba, di dalamnya.

Pada awal berdirinya, Kowloon Walled City adalah sebuah benteng militer Cina. Ketika Cina menyewakan Pulau Hong Kong kepada Inggris pada 1898, Walled City berubah fungsi menjadi kantong pemukiman penduduk. Populasi Walled City meningkat secara drastis setelah penguasaan Jepang selama perang dunia kedua, hingga pada 1990 di mana 50 ribu orang tinggal berjejalan di area seluas 2,6 hektar.

Pemerintah Hong Kong sesungguhnya telah mengumumkan rencana penghancuran Walled City sejak Januari 1987. Proses penggusuran yang rusuh dan sulit membuat penghancuran secara nyata baru bisa dilakukan pada Maret 1993 dan selesai pada April 1994. Di bekas lokasi tersebut kini berdiri sebuah taman kota yang asri (Kowloon Walled City Park).

Uniknya, kekumuhan dan kepadatannya yang fenomenal membuat Kowloon Walled City menjadi daya tarik tersendiri buat sebagian orang seperti penulis, seniman visual, pembuat film, dan game designer. Selain film Bloodsport, beberapa karya lain mengambil tema atau inspirasi dari Kowloon Walled City, seperti novel Bourne Supremacy, game Call of Duty: Black Ops, film Crime Story (dibintangi Jackie Chan), dan Batman Begins.

Kowloon
Foto: Archdaily.com

Mengenang Kowloon Walled City membuat pikiran saya mengarah kepada eks lokalisasi Kalijodo. Ada beberapa kesamaan di antara dua lokasi tersebut. Sama-sama pernah mendapat predikat negatif dengan label sebagai kawasan tanpa hukum, pusat prostitusi, dan sebuah area urban di mana mafia lokal seperti lebih berkuasa daripada aparat negara.

Kini, kedua kawasan tersebut telab berubah bentuk, menjadi kawasan yang lebih beradab. Pemerintah Hong Kong telah melakukan upaya yang luar biasa untuk memungkinkan perubahan drastis tersebut. Pemprov DKI di bawah Ahok juga telah melakukan hal yang sama.

Perubahan positif yang terjadi di Kowloon Walled City bisa dibilang permanen. Tidak ada lagi tarik ulur kepentingan di sana. Pertanyaannya sekarang, apakah gebrakan yang telah dilakukan Ahok di Kalijodo juga bakal permanen? Atau akankah justru  setback (mundur ke belakang) dan pelan-pelan kembali meliar seperti sediakala di mana kegelapan kembali berkuasa? Kuncinya ada pada komitmen pemerintahan DKI yang baru. Mudah-mudahan.

Kota tembok Kowloon
Foto: Dailymail
Bagikan artikel ini kepada teman

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *