Fun Fact: Viagra Awalnya Adalah Obat Penyakit Jantung

Pil biru Viagra

Viagra (merk dagang buat Sildenafil) boleh jadi adalah salah satu jenis obat yang paling populer di dunia, terutama buat kaum pria yang mengalami masalah dengan kekuatan ‘perabotan’ mereka. Tidak heran karena berdasarkan sebuah survei, diperkirakan 30 juta pria di Amerika Serikat dan lebih dari 100 juta pria di seluruh dunia menderita disfungsi ereksi.

Namun tidak banyak orang yang tahu kalau Viagra sebetulnya ditemukan secara tidak sengaja, ketika para peneliti di perusahaan farmasi Pfizer tengah mengembangkan obat buat penyakit jantung …

Penemuan bahwa sildenafil bisa menyebabkan ereksi adalah peristiwa yang tidak direncanakan. Senyawa sildenafil awalnya dikembangkan oleh Pfizer untuk pengobatan hipertensi (tekanan darah tinggi) dan angina pectoris (nyeri dada akibat penyakit jantung). Selama uji klinis jantung, para periset menemukan bahwa obat tersebut lebih efektif dalam menginduksi ereksi daripada mengobati angina.

Selama uji klinis awal sildenafil yang dilakukan di laboratorium farmasi Pfizer di Kent, sukarelawan laki-laki yang mengkonsumsi pil secara konsisten melaporkan ereksi yang tidak beralasan dan tahan lama. Setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata Viagra, yang dirancang untuk mengendurkan pembuluh darah di sekitar jantung untuk memperbaiki aliran darah, memiliki efek yang sama pada arteri di dalam penis.

Viagra bekerja sebagai respons terhadap rangsangan seksual untuk meningkatkan aliran darah ke penis yang mengarah ke ereksi. Viagra tidak menghasilkan ereksi tanpa rangsangan seksual. Ketika seseorang terangsang, otot di penis menjadi relaks yang memungkinkan aliran darah lebih besar ini. Viagra membantu mengangkat kadar zat yang menyebabkan jaringan menjadi rileks. Viagra dan obat penghambat PDE5 lainnya seperti Cialis, Levitra, Stendra dan Staxyn mengobati disfungsi ereksi, namun tidak secara langsung meningkatkan hasrat seksual pria.

Menyadari peluang bisnis yang terbuka dari ‘ketidaksengajaan’ tersebut, Pfizer lantas mengalihkan fokus pengembangan mereka terhadap sildenafil ke arah medikasi buat disfungsi ereksi. Singkat cerita, pada tahun 1998, badan kesehatan Amerika Serikat FDA menyetujui penggunaan sildenafil alias Viagra sebagai pengobatan oral pertama untuk disfungsi ereksi.

Segera setelah resmi memasuki pasar, penjualan Viagra langsung mengalami booming hingga pada tahun 2008 mendekati angka $ 2 miliar. Pfizer mempromosikan kesadaran Viagra dan ED melalui iklan langsung ke konsumen (direct to customer, DTC), yang mendorong para pria yang mengalami disfungsi ereksi untuk meminta saran medis dan resep dari dokter mereka.

 

Bagikan artikel ini kepada teman

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *